Senin, 30 Juli 2012

SYARAT MASUK MENJADI ANGGOTA IPSI

 
Bagi perguruan yang berminat/berkeinginan untuk mendaftarkan keanggotaan ke IPSI,berikut ini kutipan dari Anggaran Rumah Tangga IPSI, yang bisa berguna.
(informasi dari mas Agus Winarno – batam)
Pasal 4
Organisasi dan/atau perguruan pencak silat Anggota Biasa IPSI terdiri dari :
  1. Keanggotaan IPSI Pusat.
  2. Keanggotaan IPSI Provinsi.
  3. Keanggotaan IPSI Kabupaten / Kota.
  4. Keanggotaan IPSI Kecamatan.

Pasal 5
Persyaratan bagi organisasi dan/atau perguruan pencak silat menjadi Anggota Biasa IPSI yaitu :
  1. Untuk menjadi anggota IPSI Kecamatan, organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan mempunyai anggota aktif sekurang-kurangnya 25 orang.
  2. Untuk menjadi anggota IPSI Kabupaten / Kota, organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan mempunyai jumlah Kecamatan sekurang-kurangnya seperempat (1/4) dari jumlah IPSI Kecamatan yang terdapat di wilayah kerja IPSI Kabupaten / Kota bersangkutan. Ketentuan ini tidak berlaku bagi Kabupaten / Kota yang belum mempunyai IPSI Kecamatan dan hanya ada satu (1) organisasi dan/atau perguruan pencak silat di wilayahnya, organisasi dan/atau perguruan pencak silat bersangkutan dapat secara langsung mendaftar menjadi anggota IPSI Kabupaten / Kota yang terkait.
  3. Untuk menjadi anggota IPSI Provinsi, organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan harus mempunyai jumlah Cabang yang seluruhnya telah menjadi anggota IPSI Kabupaten / Kota sekurang-kurangnya setengah (1/2) dari jumlah IPSI Kabupaten / Kota yang terdapat di wilayah kerja IPSI Provinsi bersangkutan.
  4. Untuk menjadi anggota IPSI Pusat, organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan harus mempunyai jumlah Wilayah dan/atau Cabang yang seluruhnya telah menjadi anggota IPSI Provinsi sekurang-kurangnya pada 10 dan/atau setengah (1/2) + satu (1) IPSI Provinsi.
Pasal 6
Dalam memenuhi persyaratan untuk mendapatkan keanggotaan IPSI, organisasi dan/atau perguruan pencak silat harus :
1. Mengisi formulir yang dapat diperoleh dari pengurus IPSI setempat dan menyerahkan kembali bersama dengan lampiran-lampiran lain, yaitu :
a. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi dan/atau perguruan yang sejiwa dan selaras dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPSI.
b. Penjelasan tentang sumber aliran dan sejarah berdirinya organisasi dan/atau perguruan pencak silat bersangkutan.
c. Susunan pengurus dan jumlah anggota.
d. Surat pernyataan kesanggupan menjunjung tinggi nama dan kehormatan IPSI dan mendukung serta berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kebijakan dan program IPSI.
2. Formulir yang telah diisi dan lampiran-lampirannya sebagaimana disebut pada Ayat 1 di atas diserahkan kepada pengurus IPSI yang bersangkutan, yaitu :
a. Untuk keanggotaan IPSI Pusat kepada PB IPSI.
b. Untuk keanggotaan IPSI Provinsi kepada Pengprov IPSI.
c. Untuk keanggotaan IPSI Kabupaten / Kota kepada Pengkab / Pengkot IPSI.
d. Untuk keanggotaan IPSI Kecamatan kepada Pengcam IPSI.
3. Pengurus IPSI yang bersangkutan melakukan penilaian terhadap kebenaran syarat-syarat dan pengisian formulir keanggotaan IPSI dan lampiran-lampiran yang telah ditentukan.
4. Apabila semua syarat dan formulir keanggotaan IPSI beserta lampirannya dinilai cukup benar, maka organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan diberi sertifikat (surat keterangan) keanggotaan IPSI. Duplikat sertifikat tersebut dikirim kepada pengurus IPSI setingkat di atasnya dan kepada PB IPSI.

SEJARAH BERDIRINYA IPSI (IKATAN PENCAK SILAT SELURUH INDONESIA)


Saya coba untuk menyampaikan sejarah singkat IPSI, yang awal keberadaannya tidak lepas dari perjuangan bangsa kita.
  1. Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, akibat agresi belanda, resminya sejak 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949, Pemerintah RI mengungsi ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Sementara Jakarta dan Bandung/Jabar diduduki Belanda. (diduga menjadi faktor kesulitan, mengapa tidak banyak tokoh silat Jabar yg ikut deklarasi pendirian IPSI dan Kongres I IPSI). Pasukan Siliwangi menjadi kekuatan utama Pemerintah RI di Yogyakarta.
  2.  Para tokoh pencak silat (pencak, istilah umum dipakai di Jateng-Jatim, silat/silek, istilah yg biasa dipakai di Sumbar, digabung menjadi kata majemuk 'pencak silat'), memprakarsai terbentuknya Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPPPSI).
Pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, para tokoh pencak silat melalui PPPPSI, mendeklarasikan berdirinya IPSI, dan menunjuk Mr. Wongsonegoro sebagai Ketua Umum. Konggres I IPSI yang tidak lama diselenggarakan setelah deklarasi, mengukuhkan Mr.Wongsonegoro sebagai Ketua Umum PB IPSI, yang bekedudukan di ibukota RI saat itu, Yogyakarta.
  1.  Menyesuaikan kembalinya pusat Pemerintahan RI ke Jakarta pada 1950, PB IPSI ikut pindah dari Yogyakarta ke Jakarta (sebagian personil).
  2.  Selain mempersatukan kekuatan pejuang persilatan, IPSI juga memandang perjuangan melalui olahraga dan pendidikan pencak silat, mempunyai peran besar dalam mempersatukan dan meningkatkan harkat dan harga diri bangsa.
  3. Dipicu pemberontakan DI/TII SM Kartosoewiryo, maka Panglima Territorium III, Kolonel RA Kosasih (terakhir Let Jend TNI), dibantu kolonel Hidayat dan kolonel Harun membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia).
Membangun kekuatan teritorial masyarakat melalui pembinaan dengan titik berat pada seni pertunjukan tradisional Ibing Penca dan beladiri pencak silat, guna melawan DI/TII yang beroperasi di Jawa Tengah bagian barat, Jawa Barat, Jakarta, sampai Lampung.
Belakangan, terjadi dualisme pembinaan pencak silat di Jabar dan Jakarta. Masing masing, IPSI, PPSI dan BAPENSI, bersaing masuk acara PON.
  1. Dari catatan sejarah perjuangan olahraga/induk olahraga:
a.       1950, ada KOI (pimpinan Sultan HB IX) dan PORI (pimpinan Widodo Sosrodiningrat).
b.       1951, PORI melebur ke KOI.
c.        1960, menjadi KOGOR (Komando/komite Gerakan Olah Raga).
d.       1962, dibentuk Departemen Olah Raga/DEPORA, dengan Menteri Maladi.
e.       1964, menjelang Asian Games IV, menjadi DORI (Dewan Olah Raga Indonesia) dipimpin ex officio oleh Presiden Soekarno dan Menteri Olah Raga, Maladi.
f.         25 Desember 1965, IPSI ikut mendirikan Sekretariat Bersama Top Organisasi Cabang  Olah Raga. Yang kemudian mengusulkan mengganti DORI menjadi KONI.
g.       31 Desember 1966, IPSI ikut menjadi pendiri KONI, organisasi independen non politik, dengan Ketum Sri Sultan HB IX.
  1. Pada era 1960 an, PB IPSI membentuk laboratorium pencak silat, untuk menyusun aturan baku yang memenuhi kriteria pertandingan olahraga. Para laboran adalah bp. Arnowo Adjie dari Kelatnas Perisai Diri, Januarno dan Imam Suyitno dari PSHT, bp. Hadimulyo, Dr. Rachmadi dan Dr. Djoko Waspodo dari KPS Nusantara. Hasil laboratorium ini mulai di ujicoba pada th 1969. Dipertandingkan pertamakali pada PON VIII th 1973 di Jakarta.
  2. Menjelang Konggres IV IPSI 1973,  dicari calon Ketua Umum PB IPSI untuk menggantikan Mr. Wongsonegoro yang sudah sepuh.
Didapatlah seorang kandidat, yaitu Gubernur DKI Jakarta, Brigjen TNI Tjokropranolo (terakhir berpangkat Let Jend). Diselenggarakan seminar2/diskusi dengan berbagai pihak di Tugu, Bogor, untuk langkah2 pembinaan kedepan. Antara lain dirumuskan aspek2 dalam pencak silat, yaitu Seni, Beladiri, Olahraga dan Kebatinan/Spiritual, sebagai jalur pembinaan lengkap.
Bp Tjokropranolo/bang Nolly, yang memiliki garis keturunan dari pendekar pencak Jawa, Gagak Handoko, dibantu sepenuhnya oleh tokoh2 perguruan:
a.       Tapak Suci : bp Haryadi Mawardi, bp Tanamas.
b.       KPS Nusantara : bp Hadimulyo, Sumarnohadi, Dr.Rachmadi, Dr. Djoko Waspodo.
c.        Kelatnas Perisai Diri : bp Arnowo Adjie HK.
d.       Pashadja Mataram: bp KRT Soetardjonegoro.
e.       PerPI Harimurti: bp. Sukowinadi.
f.         Perisai Putih: bp Maramis, bp Runtu, Sutedjo dan Himantoro.
g.        Putra Betawi: bp. H.Saali.
h.       Persaudaraan Setia Hati/PSH: Mariyun Sudirohadiprodjo, Mashadi, Harsoyo, HM Zain.
i.         Persaudaraan Setia Hati Terate/PSHT: bp Januarno, Imam Suyitno, Laksma Pamuji.
Menyusun rancangan, langkah strategis untuk mengembangkan pencak silat kedepan.
  1.  Kebetulan bang Nolly dan para pendiri  PPSI adalah satu korps, Corps Polisi Militer/CPM. Pembicaraan untuk mempersatukan menjadi lebih lancar. Dimulai dengan Sekretariat Bersama IPSI-PPSI di Stadion Utama Senayan, dilanjutkan dengan pernyataan yang disampaikan Ketua Harian PPSI, bp. H.SUHARI SAPARI di Konggres IV IPSI 1973,  bahwa PPSI bergabung di IPSI, seluruh anggota PPSI otomatis menjadi anggota IPSI. Konggres juga menetapkan Tjokropranolo sebagai Ketua Umum PB IPSI menggantikan Mr Wongsonegoro.
  2.  Oleh Tjokropranolo/ PB IPSI, maka  PPSI dan 9 perguruan tersebut, atas peran jasanya dalam "era baru" IPSI, ditetapkan sebagai perguruan tingkat pusat, dengan hak istimewa, dibebaskan dari syarat umum untuk menjadi anggota tingkat pusat. Dimasa bp Eddie M Nalapraya, kemudian disebut sebagai perguruan historis IPSI.
  3.  Atas saran presiden, untuk mengenalkan pendidikan pencaksilat di sekolah2, agar dimulai dengan olahraga rekreasi/kesehatan massal, dengan menyusun SPI (senam pagi Indonesia), dengan memasukkan unsur2 gerakan pencak silat.
Adapun kurikulum pelajaran pencak silat di sekolah, dengan penyusun bp Mariyun cs, kurang diterima perguruan2 didaerah. Dilain pihak perguruan2 juga belum berhasil menyusun silabus kurikulum sendiri. Sehingga program kurikulum pencak silat di sekolah menjadi kandas. Kedepan hanya bisa dilaksanakan dengan berbasis perguruan.
  1. Bang Nolly mulai merintis diplomasi untuk mendirikan PERSILAT. Mendorong terbentuknya Pengda dan Pengcab IPSI diseluruh Indonesia.
  2. Berganti kemasa bp Eddie M Nalapraya. Aspek2 lengkap mulai dikembangkan. Ada workshop2 untuk pengembangan pencak silat seni dll. Didukung pendanaan yang powerfull dari Bambang Tri, Prabowo Subianto, Rossano Barack dan terakhir Rachmat Gobel.
  3. Pada Konggres/MUNAS XII IPSI 2007, ditetapkan lima perguruan yang memenuhi syarat menjadi anggota tingkat pusat kategori biasa, yaitu, Persinas ASAD, Kalimasada, PSTD Indonesia, Satria Muda Indonesi dan Betako Merpati Putih. 
Demikian. Dalam tiap tahap tentu ada kisah panjang lebar. Titik berat konsep pembinaan ala 1973 tentu harus ada penyesuaian dengan tuntutan jaman. Khususnya bagaimana membina pencak silat tradisional yang mengakar pada budaya nusantara. Perlu pembaruan pemikiran dan strategi.

Minggu, 29 Juli 2012

Memperingati Haul Leluhur / Alm. H. Moch. Ilyas Yang Ke – 30




Memperingati Haul Leluhur / Alm. H. Moch. Ilyas Yang Ke – 30.
Dengan Semangat Satu Jiwa Tjimande, Mari Kita Banggakan Budaya Leluhur.

Sabtu, 28 Juli 2012

PSI Siapkan Pesilat Wakili Semarang di O2SN Jateng


 
 
image
SEMARANG, suaramerdeka.com - Bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota akan menggelar seleksi pencak silat untuk kelompok SMP. Rencananya akan digelar di Aula SDN Srondol Wetan 02-06, Kamis (31/6) besok.
Kali ini, yang dipertandingkan adalah nomor seni tunggal putra maupun putri. Dari 12 rayon di Kota Lumpia, hanya akan diambil satu putra dan satu putri mewakili Semarang dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Jateng di Semarang, Juni.
"Kami berharap seluruh wilayah dapat mengirimkan pesilat-pesilat terbaik, sehingga seleksi lebih kompetitif. Hasilnya pun akan lebih baik dibandingkan bila hanya diikuti sedikit peserta," kata Sekum IPSI Kota Semarang Siswoyo Haris Utomo.
Ditamahkannya, untuk juri penilai, IPSI kota telah menyiapkan wasit-wasit terbaik. Mereka memiliki pengalaman sebagai wasit maupun tim penilai di berbagai kejuaraan tingkat kota maupun provinsi. Tujuannya agar penilaian bersifat objektif dan seadil-adilnya.
Kriteria yang menjadi penilaian dalam nomor seni tunggal adalah kerapian dalam menampilkan jurus. Kemudian penguasaan dan penghayatan gerakan. Terakhir yang tidak kalah penting adalah ketepatan waktu, yakni tiga menit. Kurang atau lebih dapat memengaruhi penilaian.
Gerakan-gerakan yang ditampilkan diawali dengan tangan kosong. Kemudian dengan golok, terakhir adalah menggunakan toya atau golok. Setiap peserta diwajibkan harus bisa menguasai ketiganya dengan tetap berkonsentrasi pada jurus.
"Nomor seni memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan nomor bertarung. Karenanya selalu dipertandingkan di beberapa kejuaraan. Nantinya, kami berharap atlet yang akan mewakili Semarang dapat tampil maksimal di tingkat Jateng," tambah Siswoyo.
Sebelumnya di O2SN SMA Jateng, cabor pencak silat berhasil menyumbangkan satu emas dan satu perunggu bagi kontingen Kota Semarang. Prestasi itu lebih baik dibandingkan tahun lalu, di mana pencak silat tak menyumbangkan satu pun medali.

Pencak Silat Belum Memasyarakat di Sekolah

BANGKA POS.com--Olahraga dan seni bela diri Pencak Silat masih belum memasyarakat di  sekolah- sekolah di Kabupaten Bangka.
Karena di beberapa sekolah memang masih banyak yang belum menggalakkan ekstrakurikuler Pencak Silat dibanding olahraga bela diri lainnya.

"Kita dari Pengcab Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Bangka akan mencoba untuk menggalakkan seni bela diri ini ke sekolah- sekolah," kata Samsul Maulana, Sekretaris Pengcab IPSI Bangka saat dikonfirmasi Grup Bangka Pos.com, sebelum pembukaan kejuaraan Pencak Silat Bupati Bangka Cup 2011 di GOR Orom, Sungailiat, Kamis (3/3/2011).


Ia mengatakan, hal itu terjadi karena ada anggapan dari sejumlah orang yang mengatakan bahwa hambatan berkembangnya pencak silat masih di level imej sehingga masih terkesan agak menghawatirkan sebab daerah ini dihubungkan dengan "magic".  (sasmita)

Pencak Silat tak Sekadar Seni Bela Diri

 
Pencak_Silat.JPG
bangkapos.com/ichsan
Pencak silat
Laporan Wartawan Bangka Pos, Ichsan Mokoginta Dasin

BANGKAPOS.COM
, BANGKA -- Pencak silat tak sekadar olahraga atau  seni bela diri. Dalam tradisi masyarakat tertentu, silat memiliki nilai-nilai holistik, bahkan dijadikan sarana 'mengukuhkan' kekuatan ruhiyah agar seorang hamba lebih dekat dengan Tuhannya.

Prosesi untuk menguasai beragam gerak atau jurus silat, tentu tak segampang menguasai gerak senam misalnya. Akan tetapi, untuk seni bela diri pencak silat yang menekankan nilai-nilai holistik, tak saja memerlukan kesiapan jasmaniah yang baik, melainkan juga rohaniyah yang bersih.

Bahkan, untuk pelaksanaan latihan dan khataman (betamat/namat silat), harus dilaksanakan pada hari baik dan bulan baik.

Malam bulan ke-14 hingga ke-17, adalah waktu yang oleh sebagian perguruan silat dimanfaatkan untuk menggelar latihan dan khataman. Tak diketahui secara pasti mengapa bagi sebagian besar perguruan silat tradisional (khususnya di Pulau Bangka)  menggunakan malam-malam tertentu untuk menggelar latihan dan khataman.

Bagi sebagian besar perguruan silat tradisional, alam sesungguhnya diyakini memiliki kekuatan yang maha dahsyat dan sebagian kecil kekuatan tersebut dapat 'disalurkan'  ke dalam raga manusia melalui prosesi dan ritual khusus. Inilah barangkali menjadi alasan mengapa latihan dan khataman silat selalu dilaksanakan pada saat-saat bulan purnama (14 hingga 17 hari bulan).

Namun dalam pandangan yang lebih logis, alam pada dasarnya tak lebih sebagai media interaksi (sunatullah) dalam rangka membantu manusia mengenal Tuhannya dan dalam kondisi tertentu menjadi alat mempermudahkan aktivitas manusia itu sendiri.

Saat puranama misalnya, akan mempermudah orang-orang tempo dulu melakukan aktivitas (seperti berlatih silat) karena purnama merupakan satu-satunya media penerangan yang bisa digunakan untuk memperlancar aktivitas di malam hari bagi orang-orang tempo dulu.

Dari sekian banyak perguruan silat tradisional di Pulau Bangka,  nama Perguruan Silat Telaga Putih, tentu sudah tak asing bagi masyarakat di Kecamatan Mendobarat dan sekitarnya.  Perguruan silat yang dikelola secara turun temurun ini, sudah melahirkan ratusan 'pendekar' pilih tanding.

Awal bulan lalu, Perguruan Silat Telaga Putih yang diketuai oleh Asar (60) ini 'menamatkan' sedikitnya 40 orang murid. Sebagai salah satu perguruan silat tradisional, aliran silat Telaga Putih merupakan perpaduan antara unsur bela diri dan tenaga gaib.

Kedua-keduanya menjadi satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan mengingat  proses untuk mendapatkan  jurus-jurusnya berawal dari sebuah ritual khusus.

Tak saja kesiapan raga, namun keimanan juga menjadi penentu dari kesempurnaan jurus-jurus yang dipelajari. Singkat kata, Perguruan Silat Telaga Putih, tak sekadar mengajarkan jurus-jurus bela diri, akan tetapi juga mengajarkan agar manusia lebih dekat dengan Tuhan.

Semakin dekat dengan Tuhan, akan semakin mudah dan cepat untuk memahami jurus-jurus yang diajarkan. Sebaliknya, jika suatu ketika menjauhkan diri ajaran Tuhan, maka jurus maupun kekuatan yang dimiliki akan menjadi tak berguna dengan sendirinya.

Dalam prosesi khataman, selaku ketua, Asar tak henti-hentinya memberi petuah bahwa segenap kekuatan yang telah ia salurkan, hanya boleh digunakan untuk kebaikan semata (amar ma'ruf nahi munkar).

Oleh sebab itu, prosesi khataman tidak dilakukan secara serampangan. Hanya murid yang dinilai layak saja yang boleh mengikuti khataman. Jika dipaksakan terhadap murid yang dinilai belum siap, maka proses penyaluran tenaga dalam akan keluar kembali dengan sendirinya.

Demikianlah, kekuatan supranatural ternyata mampu menyatu dalam raga manusiawi, yakni raga orang-orang yang bersih dan terpilih.

Pencak Silat Bukan Sekadar Beladiri Kampungan

 
Ketua_IPSI_Babar.jpg
bangkapos.com/riyadi
Ketua IPSI Kabupaten Bangka Barat, Bong Ming Ming.
Laporan Wartawan Bangka Pos, Riyadi

BANGKAPOS.COM
, BANGKA -- Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Bangka Barat akan membentuk image di masyarakat bahwa pencak silat bukan sekadar ilmu beladiri yang kampungan, tetapi sebagai cabang olahraga untuk meraih prestasi.

"Ke depan atlet silat, dia tidak hanya sekadar bisa pencak silat saja, tetapi juga harus cerdas, berprestasi tidak hanya di arena saja, tapi juga berprestasi dalam pendidikannya," kata Ketua IPSI Kabupaten Bangka Barat Bong Ming Ming kepada bangkapos.com, Kamis (12/7/2012).

IPSI Bangka Barat mencari calon atlet-atlet baru dengan membuka pelatihan pencak silat di tiap sekolah di Bangka Barat.

Berita PON2012 » Pencak Silat Optimis Raih Empat Emas, Riau Waspadai Jabar

Berita PON2012 » Pencak Silat Optimis Raih Empat Emas, Riau Waspadai Jabar

Raih Lima Emas di Solo, IPSI Riau Juara Umum II

PEKANBARU: Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Riau keluar sebagai juara umum II di Kejuaraan  Pencak Silat Nasional Mini PON 2012  di Solo, Jawa Tengah, belum lama ini. Dalam event ini Riau berhasil merebut lima emas, dua perak dan tiga perunggu.

Sedangkan juara umum I di raih kontingen silat dari IPSI Jawa tengah yang juga merupakan tuan rumah penyelenggara. Lima medali emas Riau di iven ini dipersembahkan Ajeng Febrianti, M
Parmadi, Jeni Febrianto, Rudi Irawan dan Almad S. Dua perak diraih Soraya Khairani dan Regu Putra atas nama H Hakim, Rahmat,dan Dodi.

Sedangkan perunggu dipersembahkan dari nomor laga putra yang diperkuat M Habibullah, Ganda Putra oleh pasangan Robi Darwis dan Anggi Caisdario serta Regu Putri atas nama Arni W, Julia dan Endah.

Ketua Umum Pengprov IPSI Riau Drs H Zulher MS menyambut sangat puas dengan hasil yang di torehkan para pesilat Riau yang dipersiapkan menghadapi PON mendatang. “Prestasi ini membanggakan karena yang ikut atlet seluruh Indonesia, dan para atlet silat Pelatda PON Riau dapat memberikan prestasi yang semakin lebih baik'' ujarnya.

lebih jauh dikatakannya bahwa pengprov IPSI Riau banyak mengambil manfaat dalam mengikuti kejuaraan mini pon di Solo tersebut, sehingga Ipsi Riau dapat mengevaluasi seberapa jauh perkembangan dari para atlet  yang sudah di pelatdakan jauh jauh hari sebelumnya.

"Lewat iven ini juga  kami  jadi tahu berbagai kelemahan yang harus dibenahi. Kami  juga tau kekuatan atlet dari provinsi lain, jadi jelang dua bulan kedepan kita masih sempat berbenah untuk mendapatkan prestasi terbaik di PON mendantang,” ulasnya.(tim)

SEJARAH ALIRAN SILAT INDONESIA








Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:
1. Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
2. Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
3. Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
4. Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.
Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.
Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.
SEJARAH BEBERAPA ALIRAN SILAT :
Sejarah beberapa aliran/perguruan silat berikut ini dikutip dari beberapa sumber. Penulis tidak dalam kapasitas menilai kebenaran fakta sejarah yang disampaikan
I. SEJARAH ALIRAN SILAT SERA
(sumber : http://sahabatsilat.com/forum/aliran-pencaksilat/sejarah-aliran-silat-sera/)
“Bismillahirrahmanirrahim”
Sejarah Singkat Aliran Silat Sera (Berkembang menjadi Perguruan Pencak Silat Pancassera) Sumber : H. Cucu Sutarya, SH (Guru Besar/Pembina Utama).
Bermula dari kabilah-kabilah Gujarat Persia yang pada abad ke XVI dating ke daerah aceh, selain berniaga mereka juga membawa dan menyebarkan agama serta kebudayaan Islam. Pada abad ini agama Islam mulai masuk ke tanah Aceh. Saudagar-saudagar tersebut mendapat pengetahuan agama dan kebudayaan dari Syekh Sayyidina Ali r.a. Beliau adalah sahabat dan sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dikenal sebagai seorang ahli dalam strategi perang, terampil dalam mengolah raga, terutama dalam permainan pedangnya yang selalu membuat ciut nyali lawan-lawannya, terutama musuh Islam pada saat itu. Tak heran jika kemudian beliau dijuluki dengan julukan Syaifullah ( Si Pedang Allah).
Saudagar-saudagar inilah yang membawa pengetahuan agama dan kebudayaan itu hingga
sampai ke tanah Aceh. Hubungan mereka dengan penduduk asli terjalin dengan baik, terbukti kemudian dengan munculnya seorang tokoh sufi setempat yang dikenal dengan sebutan Nyai Panjate. Nama asli Nyai Panjate adalah Hajja Cut Suriah binti Teuku Syamannur. Suaminya bernama H.Teuku Kaharuddin Solehuddin. Kedua suami istri tersebut mempelajari ilmu agama dan kebudayaan (ilmu silat) dari Kabilah Gujarat Persia. Salah seorang guru mereka adalah murid dari keturunan murid Syekh Sayyidina Ali r.a (Wallahu alam).
Ketika tentara kolonial Belanda (VOC) masuk ke tanah Aceh pada tahun 1752 M, kedua suami istri tersebut bekerjasama dengan para pendekar silat lainnya mengadakan perlawanan bersama rakyat untuk mengusir tentara belanda dari bumi Aceh. Pada mulanya mereka berhasil memukul mundur pasukan Belanda, namun dengan siasat licik dengan cara mengadu domba diantara rakyat Aceh, maka tentara Belanda dapat mengetahui kelemahan suami Cut Suriah tersebut. Akhirnya pada saat yang naas bagi Teuku Kaharuddin Solehuddin, Belanda dapat menembak roboh beliau dengan peluru emas, maka gugurlah beliau sebagai seorang syuhada.
Setelah suaminya gugur, Hj. Cut Suriah hijrah ke dalam hutan + 35 km ke pedalaman daerah Bireun. Beliau mengasingkan diri sebagai seorang sufi. Pada waktu sedang hamil muda + 2 bulan. Dalam kehidupan sebagai seorang sufi kebutuhan hidup beliau bergantung kepada alam di sekitarnya. Sesekali beliau berburu dengan alat sedanya, beliau sering menolong orang-orang yang sedang mencari kayu atau hasil hutan lainnya, yang sering digangggu binatang buas seperti harimau, ular, buaya dan lain sebagainya. Sudah sering beliau menyelamatkan orang yang diganggu binatang buas, kemudian lenyap tanpa meningggalkan jejak. Dari mulut ke mulut orang-orang yang pernah ditolongnya mengatakan bahwa adanya wanita berkerudung rapi dengan ilmu silatnya yang tinggi sanggup melumpuhkan binatang buas yang menyerang para pencari hasil hutan, hanya dengan beberapa gerakan saja. Yang karena keahliannya yang sangat mengagumkan sehingga terkenal sebagai seorang wanita berkerudung yang misterius sering menolong tanpa pamrih, kemudian pergi tanpa diketahui identitasnya. Sifat pendekarnya
membuat dicari orang untuk berguru, tetapi karena yang masih buas sehingga banyak yang menjadi korban sebelum sampai ke tujuan.
Sekitar abad ke XVII, datanglah seorang laki-laki bernama Bapak Sera, beliau adalah seorang yang gemar sekali bertualang. Dalam petualangannya beliau banyak sekali menimba ilmu agama dan silat dari berbagai daerah, disamping berniaga sebagai mata pencariannya. Beliau selalu merasa bahwa ilmunya masih saja kurang. Ketika beliau sedang berada di daerah Riau, beliau mendengar berita yang tersiar akan keperkasaan wanita meisterius itu yang membuat Bapak Sera bertekad untuk mencarinya ke tanah Aceh. Untuk mencapai tujuannya, tentu saja harus melalui perjuangan yang amat berat, harus bertarung dengan harimau, ular, babi hutan, begitu juga harus berhadapan dengan buaya setiap menyeberangi sungai. Jarak yang hanya sekitar 30 km itu harus dicapai selama 3 bulan. Seandainya tidak berbekal ilmu silat, mustahil dapat mencapai tujuan.
Rupanya segala sepak terjang Bapak Sera sudah diketahui oleh Ibu Hj. Cut Suriah. Ketika
Bapak Sera sedang tertidur lelap terdengar suara takbir adzan dari Hj. Cut Suriah yang
dikeraskan, tanda waktu shalat Shubuh telah tiba. Dari atas pohon besar Bapak Sera melihat seorang berkerudung kuning dengan menggendong anak dipunggungnya turun, untuk melaksanakan Shalat Shubuh. Kemudian Bapak Sera pun turun daripohon dan mengucap salam, dibalas salamnya. Kemudian mereka melakukan shalat dengan berjamaah. Sebagai seorang pendekar dan ahli sufi, semua sepak terjang dan tujuan dari Bapak Sera sudah diketahui oleh Hj. Cut Suriah. Sekitar tiga bulan Bapak Sera melayani Hj. Cut Suriah, barulah dengan perjuangan yang ulet mulailah diajarkan ilmu silat oleh Hj. Cut Suriah pada siang hari dan ilmu agama pada malam harinya. Setelah sekitar satu setengah tahun Bapak Sera berlatih, datanglah seorang pemuda yang terdampar, konon khabarnya dari tanah Sulawesi, bernama Lago dan menjadi adik seperguruan dari Bapak Sera.
Kurang lebih 6 tahun berguru kepada Hj. Cut Suriah, Bapak Sera baru mengetahui nama asli gurunya tersebut. Nyai Panjate adalah julukan yang diberikan Bapak Sera, karena setiap menyusui anak perempuannya dengan terbungkus rapi selalu dikebelakangkan. Hj. Cut Suriah bersumpah bahwa putrinya itu tidak akan pernah dilatihilmu silat. Atasm anjuran Sang Guru, Bapak Sera dan Bapak Lagoa dianjurkan untuk kembali pulang ke tanah asalnya karena ilmu yang didapat telah dinilai cukup. Mereka kembali ke tanah Jawa, Bapak Sera ke Bogor dan Bapak Sera ke Tanjung Priuk, tepatnya daerah Lagoa sekarang, daerah itupun berasal dari nama beliau karena wafat dan dimakamkan disana.
Dalam pengembaraannya, Bapak Sera bertemu dengan dengan seorang pedagang kain dari
Mongol yang bernama Yu Sak Liong, yang kemudian menjadi majikan Bapak Sera dalam
berniaga. Bah Yu Sak Liong adalah seorang Muslim yang lebih dikenal dengan nama Bah Yusa. Mereka berniaga berkeliling sampai ke tanah Aceh. Awal perkenalan mereka dimulai ketika saat Bapak Sera sedang menurunkan bal gulungan kain, tiba-tiba, satu gulungan kain tersebut jatuh dan akan menimpa dirinya. Namun dengan gerakan tangannya, Bapak Sera berhasil menagkis bal gulungan kain tersebut, hingga bal gulungan kain tersebut yang beratnya puluhan kilo tersebut mental terkena tangkisannya dan tak sengaja melayang menuju kea rah Bah Yusa. Namun dengan gerakan kakinya, Bah Yusa menyambut bal gulungan kain tersebut dan menendangnya kearah tempat semula. Bah Yusa sangat kagum menyaksikan gerakan Bapak Sera yang hanya dengan sedikit saja menggerakan tangan, dapat menyelamatkan diri, karena jika orang lain yang mengalaminya pasti sudah cedera berat. Akhirnya mereka berkenalan dan sepakat untuk tukar pikiran dalam hal ilmu mereka masing-masing.
Bah Yu Sak Liong ahli dalam beladiri menggunakan kaki sesuai dengan negeri asalnya yakni Mongol, sedangkan Bapak Sera ahli dalam menggunakan tangan. Mereka mengadu ilmu kurang lebih tiga hari tiga malam, dengan istirahat untuk mengerjakan shalat. Tak ada yang unggul dalam adu ilmu tersebut, Bah Yu Sak Liong hangus kakinya, sedangkan Bapak Sera hangus pula tangannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengabungkan ilmu mereka. Sejak saat itu maka bertambahlah ilmu silat Bapak Sera dan Bah Yu Sak Liong. Ilmu mereka kemudian dikenal dengan Aliran Sera, sesuai dengan nama penemunya yaitu Bapak Sera. Bah Yu Sak Liong kemudian kembali ke Mongol dan Bapk Sera meneruskan pengembaraannya.
Suatu ketika Bapak Sera menyaksikan seorang pedagang kain keliling dari Cina Shantung
sedang dikeroyok olehsekelompok penyamun yang bermaksud merampoknya, namun Cina tersebut dengan gesit dan lincah dapat mengalahkan para penyamun tersebut dengan hanya bersenjatakan meteran kainnya sebagai senjata toya. Permainan toyanya sangat
mengagumkan, sampai-sampai bapak sera tidak beranjak dari tempatnya menyaksikan
permainannya. Namun naas bagi Cina tersebut, ketika sedang bertarung, kakinya dipatuk
seekor ular berbisa. Dia pinsan dan ditolong dan diobati oleh Bapak Sera hingga sembuh.
Sebagaitanda terima kasih, Cina tersebut meberikan seluruh kain dagangannya kepada Bapak Sera, namun ditolak, meskipun demikian Bapak Sera tidak dapat menyembunyikan
keinginannya untuk belajar ilmu toyanya. Maka dengan senang hati Cina Shantung tersebut mengajarkan ilmu toyanya kepada Bapak Sera dan dalam waktu singkat telah dapat dapat menguasai ilmu toya tersebut. Malah sebelum Cina Shantung tersebut kembali ke negeri asalnya, dia berkenan menurunkan seluruh ilmunya kepada Bapak Sera dan mereka berdua mengangkat saudara. Bapak Sera mengembangkan ilmunya sesuai dengan keadaan waktu itu, konon khabarnya beliau bermukim hingga wafat
dimakamkan di Tegal Harendong Rumpin Ciampea Bogor.
Salah seorang murid Bapak Sera yang paling menonjol adalah Bapak Mursyid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bah Ocid yang berasal dari Kebonmanggis. Beliau inilah
yangmengembangkan Aliran Sera pada abad ke XVIII di daerah Bogor dan sekitarnya. Ciri-ciri fisik Bah Ocid, tinggi sekitar 157 cm, rambut panjang sebahu, kuku tangan dan kaki sekitar 7 cm, sehingga kalau berjalan, aka nada bekas kuku kakinya menggores jalan yang dilaluinya. Tak banyak hal ikhwal Bah Ocid, untuk lembih komplitnya kami masih berusaha mencari datanya dari berbagai sumber.
Konon Bah Ocid ini selain menguasai Silat Sera, juga mempelajari ilmu istijrad. Kuku tangan dan kakinya dibiarkan panjang karena tak bias dipotong, begitu pula rambutnya, mandi hanya dapat dilakukan setahun sekali yakni pada Bulan Maulud, hal ini disebabkan ilmu istijradnya tersebut yang menyebabkannya. Pantangan ini kalau dilanggar akan menyebabkan badan Bah Ocid menjadi hitam dan gatal-gatal. Jika Bah Ocid sedang tidur, tak seorangpun berani membangunkannya, sebab dapat berakibat fatal, karena refleknya yang sudah menyatu, walaupun sedang tidur, Bah Ocid dapat membuat orang yang
membangunkannya jatuh tunggang langgang. Kalau terpaksa orang yang membangunkannya harus memakai galah atau tongkat panjang, itupun bisa patah-patah karena refleknya.
Sepengetahuan Bapak Sera bahwa Hj. Cut Suriah tidak pernah mengajarkan ilmu hitam,
adapun ilmu-ilmu hitam yang dipunyai oleh Guru-guru Sera adalah hasil pelajaran dari Guruguru sebelumnya, karena berguru Silat Sera, fisik harus kuat dahulu, seperti Bah Ocid, sebelumnya sudah mempunyai ilmu kebal, kejayaan, Batara Karang dan lain sebagainya.
Peristiwa Bapak Sera rupanya juga dialami oleh Bah Ocid, yakni pernah mengadu ilmu dengan seorang Cina seorang pedagang koyo bernama Babah Tong, yang juga mahir ilmu silat. Merekamengadu ilmu di pinggir kali Cipakancilan di Jalan Paledang, di depan Asrama Tentara yang sekarang menjadi Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi. Babah Tong mengakui keunggulan Bah Ocid, setelah itu hubungan mereka tetap berjalan baik. Babah Tong menganggap Bah Ocid sebagai kakak sperguruannya. Kata Pabaton sekarang adalah berasal dari nama beliau, karena tinggal disana. Bah Ocid banyak mempunyai murid, tetapi jarang yang sampai kepada ajaran terakhirnya yaitu yang disebut Sera Geni, Gerak Rasa Sera, Rasa Diri Sera dan Sera Manjak Pamungkas, yang merupakan filsafat Silat Sera. Kebanyakan hanya sampai pada Langkah Opat Lipet, Kombinasi dan Tilu Eusi (Tiga Isi) beserta fungsinya atau istilah Ajaran Sera disebut Rusiah (Rahasia).
Dalam hal ini hanya Bapak H. Ali Yoenoes Bin Kartadiredja, yang sampai kepada Langkah
Pamungkas. Beliau sebelum menjadi murid Silat Sera dari Bah Ocid terlebih dahulu banyak
belajar dari guru-guru silat terkenal di seluruh Tanah Jawa, diepkirakan tidak kurang dari 11 (sebelas) orang gurunya. Dengan bermodalkan silat-silat itulah baru dapat berguru kepada Bah Ocid, konon khabarnya, setiap beradu fisik dengan Bah Ocid, kalau tidak berilmu tentulah anggota badan yang terkena benturan akan menjadi hitam legam (tampak hangus). Bapak H. Ali Yoenoes berasal dari Jombang, Jawa Timur, beliau malang melintang di dunia persilatan sejak abad ke XVII dan XIX, karena beliau panjang umurnya sampai mencapai usia 103 tahun.Beliau pernah dicoba oleh para pendekar berbagai daerah, namun Alhamdulillah belum pernah kalah. Dahulu Pemerintah Kolonial Belanda sengaja mengadu domba para pendekar silat. Mereka diharuskan bertarung sampai mati, dengan perjanjian tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban, dibawah panggung sudah disediakan keranda mayat. Belanda sengaja mengadakan hal tersebut dengan maksud agar para pendekar silat tersebut tumpas dengan sendirinya, hingga tidak ada yang ditakuti lagi oleh pihak Belanda. Acara tersebut diadakan setiap tahun bertempat di dalam Istana Kebun Raya Bogor, dalam memperingati Ulang Tahun Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.
Pada awal mulanya Bapak H. Ali Yoenoes tidak menyadari siasat licik dari pihak Belanda
tersebut, maka pada setiap bertanding beliau pasti membunuh lawannya, tak kurang, 19 orang mati ditangannya. Tetapi akhirnya beliau menyadari akan hal ini, maka setiap kali bertarung, beliau tidak sampai membunuh lawannya yang kalah, namun cukup hanya dilukai saja dan kemudian menyuruh lawannya tersebut untuk melarikan diri. Tindakan ini lama kelamaan tercium juga oleh pihak Belanda dan akhirnya Bapak H. Ali Yoenoes untuk selanjutnya tidak diperkenankan ikut pertandingan lagi, malahan beliau ditahan selamapertandingan berlangsung. Para pendekar yang beliau selamatkan pada pertandingan tersebut, setiap Hari Idhul Fitri dan Bulan Maulud selalu berkumpul dan bersilaturahmi di rumah Bapak H. Ali Yoenoes di Gang Selot Paledang, sebagai rasa syukur dan tanda terima kasih telah 31 diselamatkan nyawanya. Bapak H. Ali Yoenoes belajar silat pada Bah Ocid sekitar 9 tahun dan beliau melatih selama 21 tahun.
Bapak H. Ali Yoenoes menunaikan ibadah haji pada tahun 1969. Salah seorang putra beliau
yang turut mengembangkan Silat Sera adalah Bapak Abdulrachman, atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Komang dan di dunia persilatan dijuluki Si Girimis, karena kecepatan tangan beliau yang kalau mencecar lawan seperti hujan gerimis, putra lainnya adalah H. Rachmat atau lebih dikenal dengan nama Pak Memet. Bapak H. Ali Yoenoes bin Kartadiredja meninggal pada tahun 1971 dalam usia 103 tahun, yang kemudian disusul oleh putranya yakni Bapak Abdulrachman pada tahun 1983 dalam usia 64 tahun.
Salah satu murid yang dilatih oleh Bapak H. Ali Yoenoes dan Pak Komang adalah Bapak H.
Cucu Sutarya, SH Bin Tubagus Baban Sidik Ismaya. Beliau mulai berlatih pada Bapak H. Ali Yoenoes sejak tahun 1957 hingga tahun 1968 dan mengembangkannya hingga sekarang. Bapak H. Cucu Sutarya, SH menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun 1998, sekitar bulan Maret-April (Tahun 1418 Hijriah). Beliau pernah pula menimba ilmu dari berbagai sumber lain seperti karate (Dan II Internasional) yudo, tinju (pernah juara tinju kelas bantam pada PON di Surabaya), kuntau, yuyitszu, dan silat dari perguruan lain seperti Aliran Cikalong, Syahbandar, Pamacan, Cimande, Ajrak. Hal ini dilakukan atas anjuran dari Bapak H. Ali Yoenoes sebagai bahan pembanding dan sebagai ilmu tambahan saja, tetapi loyalitas tetaplah terpusat pada Silat Sera yang kemudian beliau kembangkan menjadi Perguruan Pencak Silat PANCASSERA (Lima Silat Sera, yaitu Sera Banyu, Sera Ringkus, Sera Bayu, Sera Putih dan Sera Geni). Khusus untuk para Pelatih diajarkan Gerak Rasa dan Rasa Diri sebagai Langkah (Jurus Panjang) terakhir dari Aliran Silat Sera. Bapak H. Cucu Sutarya, SH mendapat kepercayaan langsung dari Bapak H. Ali Yoenoes untuk meneruskan perguruan. Beliau resmi mulai melatih sejak tahun 1968 di Bandung dan di Garut, kemudian di Bogor sampai sekarang. Hanya kepada beliaulah Bapak H. Ali Yoenoes menurunkan seluruh ilmunya hingga tuntas untuk dikembangkan dan diteruskan. Dengan demikian pewaris dan penerus satu-satunya adalah Bapak H. Cucu Sutarya,SH.
Guru-guru lain dari Bapak H. Cucu Sutarya, SH adalah :
1. H. Adra’I Cianjur Selatan (Pengurutan dan Patah Tulang)
2. Kyai H. Baing Bakri Pasarean Cianjur (Cikalong)
3. Bah Rumanta Garut (Syahbandar)
4. Bah Djadja Gunungbatu Bogor (Pamacan)
5. Bah Maun Dreded Bondongan (Sera Pamacan)
6. Bah Enuh Tarogong Garut (Ajrak)
7. Liem Sen Thong Bogor (Kuntau dan Akunktur)
8. Meneer Ong Bogor (Yudo dan Yuyitszu)
9. Mr. Matsunaga Osaka Jepang (Karate)
10. Endang Ukaedi Bogor (Tinju)
Perguruan Silat Pancassera menjadi anggota IPSI pada tahun 1976. Sampai saat ini
perguruan telah banyak berkembang, bahkan sampai keluar Pulau Jawa yakni di Kalimantan dan Maros, Sulawesi Selatan. Di Jawa sendiri Silat Sera tersebar luas, mulai dari Garut, Bandung, Bogor, Sukabumi, Depok, Jakarta dan di mancanegara di Amerika Serikat, Norwegia dan khusus di Belanda ada murid Bapak H. Ali Yoenoes yaitu Keluarga Van de Vries.
Pada perguruan Silat Pancassera khusus diajarkan :
• Ilmu beladiri Sera tangan kosong
• Ilmu beladiri senjata : golok tunggal, golok ganda, gobang (sejenis pedang), gada, toya
panjang, toya pendek, ruyung pendek, ruyung panjang, toya pendek, toya panjang, trisula,
tongkat rantai dua, rantai tiga (double stick, triple stick), pisau terbang, cambuk, cemeti, clurit dan kombinasi senjata-senjata tersebut)
• Pengurutan keseleo, patah tulang.
• Tusuk jari, tusuk jarum (akupunktur.
• Peramuan obat-obatan tradisional.
• Seni pernapasan

PHOTO BERSAMA SAAT TIM PENCAK SILAT INDONESIA BERLATIH DI CHINA

Semoga Tim Pencak Silat Indonesia Tambah Maju.

Pesilat Mancanegara Ikuti Pawai Silat Tradisi Yogyakarta


Yogyakarta,zamrudtv-- Sekitar 2.000 pesilat dari berbagai aliran akan mengikuti Pawai Silat Tradisi, Minggu (27/5/2012) di Yogyakarta. Pawai yang akan menyusuri Jalan Malioboro dimulai dari Jalan Abubakar Ali dan berkahir di Alun-alun Utara ini, diselenggarakan Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta.

Koordinator Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta Ludiyarto Bimasesna Wibowo Jumat (25/5) menyebutkan, pawai silat tradisi ini diikuti 30 perguruan silat dari berbagai wilayah. Di samping Yogyakarta, juga hadir pesilat dari Jawa Timur, Madura, Jawa Barat, Spanyol, Italia, dan Thailand.

Tujuan pawai silat tradisi ini adalah untuk memperingati hari Kebangkitan Nasional dan juga untuk memperingati hari ulang tahun ke-64 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Pawai ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda bahwa silat adalah wirisan budaya yang adiluhung. Silat merupakan local genius yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

PAS Yogyakarta sebagai pemrakarsa pawai ini merupakan wadah yang khusus berkonsentrasi mengurusi bidang pembinaan seni budaya dan kerohanian. Kelahirannya dinaungi oleh Surat Keputusan IPSI Kota Yogyakarta. PAS Yogyakarta kini memiliki 40 perguruan silat yang berada di wilayah Yogyakarta, bahkan ada anggotanya yang berasal dari luar negeri. (tim/zamrudtv.com)

PENCAK SILAT DI SAMPANG, MELAHIRKAN PRESTASI NASIONAL


Pencak silat di sampang, melahirkan prestasi nasional
Pencak silat di bumi Nusantara bukan merupakan barang baru lagi, karena memang olah raga ini dianggap asli milik tanah melayu. Tidak terkecuali di Madura, olah raga yang penuh dengan unsur seni ini juga mendapat tempat yang terhormat di mata masyarakatnya, bahkan sampai ke manca negara. Seni bela diri yang pernah dilarang pada jaman penjajahan Belanda ini berkembang pesat setalah Indonesia mendapatkan kemerdekaan dan sekarang sudah mendapatkan pengakuan dari bidang olah raga sebagai salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan secara internasional.
Jokotole Cabang Sampang
Dan seperti pencak silat yang berasal dari daerah lain di Indonesia ini, Perguruan Pencak Silat Jokotole Sampang Madura ini juga digemari oleh generasi muda. Bermarkas di Jalan Garuda Kelurahan Gunung sekar, Kabupaten Sampang, perguruan ini menjadi tempat berkumpulnya anak muda yang berkreasi dalam banyak bidang. Selain menjadi tempat berlatih bagi perguruan ini juga tempat mangkalnya anak muda yang bergelut di bidang seni teater rakyat. Tempat ini memang cukup reprsentatif untuk kegiatan-kegiatan luar ruangan seperti berlatih olah raga ini. Dengan halaman yang luas beralaskan paving dan matras maka jadilah sebuah arena latihan pencak silat.
Menurut Ketua Harian Jokotole Cabang Sampang, Mohammad Wasil S.Sos, Cabang Perguruan Pencak Silat Jokotole Sampang berdiri pada tahun 80-an yang merupakan cabang dari Perguruan Pencak Silat Jokotole Kamal, Bangkalan Madura. ? ?Perguruan Pencak Silat Jokotole salah satu keistimewaanya adalah pada seni pencak silatnya. Ini yang menurut saya Jokotole digemari sampai ke manca Negara. Selain yang sudah eksis di negeri Belanda, seni ini juga sedang tumbuh dan berkembang dengan baik di Amerika,? jelasnya.
Ketua Harian yang sudah belajar pencak Jokotole sejak sekolah dasar ini menjelaskan bahwa pencak Jokotole berakar dari banyak aliran pencak yang ada di bumi Nusantara. Kemudian diracik dan dikembangkan oleh Guru Besar Bpk. Suheimy menjadi seperti yang sekarang ini. ? kalau mau dirunut lebih jauh lagi sejarah aliran pencak Jokotole, kita akan dapatkan bahwa karakter dan budaya Madura yang keras banyak mewarnai jurus dan gerakan-geraknnya. Guru Besar kami ( Bapak Suheimy-red ) banyak belajar pada perguruan pencak silat di negari ini, dan kemudian meramunya menjadi gerak dan jurus Jokotole sekarang. Selain itu, kehidupan khas pondok pesantren juga memberi sumbangan yang penting untuk perkembangannya,? ungkapnya. Lebih lanjut, diuraikannya bagaimana disiplin pondok pesantren telah secara langsung menggembleng santri untuk berlatih secara lahir maupun batin untuk bisa menguasai jurus dan gerakan pencak.
Dengan disiplin khas ini , perguruan Jokotole cabnag Sampang sedang mempersiapkan muridnya untuk mengikuti kejuaraan Pekan Olah Raga Provinsi ( Porprov ) Jawa Timur. Saat ini, ada empat murid yang dipersiapkan untuk kejuaraan Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Timur yang akan diselenggarakan pada bulan Juli 2011. Murid-murid itu sedang berlatih keras untuk bisa menyumbang prestasi bagi Sampang. Even itu merupakan kesempatan bagi murid-murid Jokotole Sampang untuk mencari tiket menuju kejuaraan nasional.
Untuk even yang berskala nasional, Pergurun Jokotole Cabang Sampang bukan hal baru lagi. Sudah ada juara nasional yang dihasilkan dari perguruan yang sederhana ini. ( Lihat boks gadis kecil juara seni pencak silat nasional ). Dari berbagai cabang pencak yang dilombakan, Jokotole Sampang mempersiapkan cabang seni pencak silat berpasangan, regu dan individu. Menurut Koordinator Pelatih Moh. Hosnan Sudarmaji, untuk mempersiapkan atlit mereka ke Porprov Jatim, setiap hari harus melakukan latihan fisik dengan berlari pada tengah hari dan memperdalam teknik pada malam harinya.
Olah Raga Keras
Saat Tim Redaksi Rato Ebhu bertandang ke tempat latihan yang juga merupakan halaman rumah Pak Husnan ini, sedang dilakukan latihan pematangan teknik pencak secara berpasangan. Masing-masing murid menggunakan senjata secara berpasangan yang terdiri dari tongkat, pedang, dan senjata tradisional rakyat Madura, clurit. Gerakan-gerakan cepat dengan menggunakan senjata itu betul-betul mengerikan bagi orang kebanyakan. Dengan kekuatan penuh para murid memperagakan jurus-jurus pencaknya yang bisa membahayakan lawan latih tandingnya. Kilatan pedang dan clurit tak henti-hentinya beradu dan saling menebas, sungguh satu latihan olah raga yang sangat berbahaya dan keras.
Menurut Pak Husnan, koordinator pelatih yang berbadan kecil ini, teknik pertarungan yang diperagakan oleh murid Jokotole ini sebetulnya tidak lebih dari peragaan jurus untuk membela diri. Meskipun jurus-jurusnya juga sama mematikan bagi si penyerang. ? ?bagi kami, yang penting adalah seni pencaknya. Yang diperagakan sekarang bukanlah sekedar teknik untuk melumpuhkan lawan tetapi seni memperagakan jurus-jurus Jokotole secara berpasangan. Memang kelihatannya keras, tapi sebetulnya yang mau ditunjukkan adalah keindahan gerak,? jelasnya. Ini mungkin menjadi pembenaran bahwa satu karakter masyarakat Madura memang keras, bahkan yang dianggap seni sekalipun tetap dilakukan dengan cara yang keras. Seni pencak silat di Madura telah berkembang menjadi satu seni yang hidup subur di masyarakat dalam bentuk seni tradisi Sandur.
Pencak Jokotole di Eropa
Pada tahun tujuh puluhan, Kejuaraan dunia pertama yang diselenggarakan di Singapura menempatkan anggota kontingen Indonesia sebagai salah satu juara dunia dan beliau itu adalah Bpk. Suheimy yang merupakan pendiri Perguruan Pencak Silat Jokotole Madura. Dengan kedudukan berpusat di Kamal, Kabupaten Bangkalan Madura, perguruan ini berkembang keseluruh penjuru Nusantara bahkan sampai ke benua Eropa. Tercatat dalam website buku tamu perguruan seni bela diri ini, cabang di negeri Belanda yang berkembang pesat dan menghasilkan murid-murid berprestasi dunia. Cabang utama dari perguruan Jokotole di Eropa terletak di Kota Harleem, negeri Belanda, yang sekarang di bawah asuhan Pendekar Paul J.D. Rovers.
Cabang Utama Harleem, berdiri pada awal tahun 80-an yang dirintis oleh Glenn Pennock seorang warga Negara Belanda. Sejak tahun-tahun itu, pencak silat Madura berkembang di Eropa. Pada tahun 1988, Jokotole Belanda berhasil berprestasi di invitasi pencak silat dunia dengan menjuarai lebih dari 15 kejuaraan di Eropa. Dalam Web resmi tersebut disebutkan bahwa hubungan cabang utama yang ada di Harleem dengan Perguruan Utama di kamal Madura adalah dalam bentuk latihan bersama yang dilakuan setiap tahun di Kamal Madura.
Seperti lazimnya olah raga bela diri lainnya, pencak silat Jokotole juga memiliki jenjang dalam pendidikannya. Terdapat lima tingkat utama yang harus dilalui oleh murid untuk mencapai yang disebut tingkat sempurna. Dimulai dari sabuk putih untuk pemula, kemudian sabuk kuning, merah, coklat dan yang terakhir sabuk hijau. untuk . Simbol-simbol warna tersebut dituangkan dengan apik dalam symbol perguruan pencak silat Jokotole yang berupa pintu gerbang yangdirengkuh oleh dua naga. Ditengah terdapat pecut dan tangga di depan pintu gerbangnya. Warna putih terletak pada anak tangga pertama, kemudian warna kuning, merah, coklat dan hijau. Web resmi Perguruan Pencak Silat Jokotole menjelaskan bahwa kelima warna itu adalah symbol panca indera yang dimiliki oleh manusia dan untuk mencapai kesempurnaan harus ditempuh dengan mendakinya. Atas tetaplah sebagai simbol kesempurnaan (Tim Rato Ebhu)

Pertunjukan Pencak Silat Pukau Ribuan Hadirin

 
Pertunjukan silat, kolaborasi dua perguruan pencak silat, Senin (9/7/2012).
Palembang (Dikdas): Sejumlah pesilat tangguh memenuhi Palembang Sport & Convention Center (PSCC), Palembang, Sumatera Selatan, Senin pagi 9 Juli 2012. Mereka tidak sedang adu jotos atau saling mengalahkan. Mereka sekadar menghibur ribuan hadirin pembukaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Namun yang mereka tampilkan tampak seperti sungguh-sungguh. Selain menunjukkan kemampuan individual tangan kosong maupun senjata toya dan golok, mereka juga adu fisik layaknya dua petarung berduel. Tidak hanya berdua, bahkan bertiga.

Di antara para pesilat itu ada perempuan dan anak-anak bertubuh mungil. Mereka begitu lincah bermain senjata dan duel. Seperti tak takut sabetan toya dan golok lawan mengenai tangan, kepala, dan anggota tubuh lainnya.

Mereka adalah para pesilat dari dua pulau, tepatnya dari Jakarta dan Palembang. Pesilat Jakarta yaitu dari Perguruan Pencak Silat Angkatan Muda Rasio (Pamur) sedangkan dari Palembang Perguruan Silat Tapak Suci.

Hariki, pelatih dan koreografer pertunjukan silat memukau itu, mengatakan, latihan bersama kedua perguruan hanya dua hari. “Intinya latihan saja dan hafal gerak,” ujarnya ihwal bagaimana menjalin kekompakan.

Lalu pesan apa yang hendak disampaikan dalam pertunjukan itu? “Di Indonesia banyak aliran dan perguruan pencak silat. Bisa ratusan bahkan ribuan. Saya ingin menunjukkan bahwa pencak silat walau berbeda sama-sama memberikan yang terbaik,” ujar Hariki.*

Pencak Silat Masuk Kurikulum American University, AS

Pencak silat adalah olah raga seni bela diri asli Indonesia yang harus dilestarikan. Namun, di negeri asalnya, pencak silat sepertinya ‘kalah pamor’ dengan karate, tae kwon do, kung fu, atau bela diri lain dari luar Indonesia. Di sekolah-sekolah kita, banyak yang mempelajari bela diri asing tersebut.

Berbeda dengan di Indonesia, pencak silat justru akan dipelajari para mahasiswa di Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat ini. Bahkan akan dimasukkan ke dalam kurikulum.

Kabar tersebut disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Jalal melalui akun twitternya, Jumat (10/6/2011). Dino menulis, “MenDuniakan Indonesia: alhamdullilah pencak silat resmi masuk Kurikulum American University, Washington DC. Who else will follow?”

Kelas pencak silat akan dibuka American University pada musim gugur mendatang, yakni sekitar bulan September. Kelas ini akan berlangsung dari Senin hingga Kamis tiap pukul 08.55-10.10 waktu setempat. Para mahasiswa yang mengikuti kelas pencak silat tidak hanya akan mempelajari jurus-jurus pencak silat, tetapi juga budaya Indonesia.

Tidak heran, pencak silat memang lekat dengan kebudayaan Tanah Air. Kata Pencak Silat sendiri merupakan gabungan dua istilah. “Pencak” dari bahasa Sunda, atau “Mancak” dari bahasa Madura dan Bali, dengan “Silat” atau “Silek” yang biasa digunakan di Sumatra.

Kelas pencak silat ini akan melatih aspek fisik para mahasiswa, aplikasi bela diri, pertarungan satu lawan satu, jurus mengunci lawan, hingga pelatihan spiritual. Materi yang diberikan akan mencakup dasar-dasar pencak silat yakni dasar-dasar menyerang, bertahan, bela diri, dan pencak silat sebagai seni.

Pihak kampus American University berharap, dengan mengikuti kelas tersebut para mahasiswanya dapat mengetahui teknik dasar bela diri dan mengaplikasikannya di saat-saat darurat.

Steven: Mengenal Islam Lewat Pencak Silat


AMERIKA (SuaraMedia) Abdul Latif Abdullah, adalah seorang Amerika pemeluk agama Kristen Protestan sebelum memeluk Islam. Namanya yang sekarang adalah nama Islam yang ia pilih setelah mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 30 Juli 1999, sebelumnya ia bernama Steven Krauss. Ketertarikan Krauss pada Islam dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di sebuah universitas di New York City pada tahun 1998. Ketika itu, ia bukanlah seorang pemeluk Kristen yang taat. Menurutnya, agama Kristen Protestan yang ia peluk sudah tidak relevan lagi dengan jaman sekarang.
"Saya sukar menemukan apapun dalam agama itu yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kekecewaan saya terhadap ajaran Kristen membuat saya menutup diri dengan hal-hal yang diklaim sebagai agama yang terorganisir, karena menurut asumsi saya semua agama semacam itu sama saja paling tidak dalam hal tidak aplikatif dan tidak bermanfaatnya agama-agama seperti itu. Oleh sebab itu, saya lebih berminat dengan apa yang diistilahkan sebagai spiritualitas tapi bukan agama," papar Abdul Latif mengisahkan masa lalunya.
Ia mengaku sulit menerima tentang konsep ketuhanan dan konsep tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam ajaran Kristen, yang menurutnya ganjil. Dalam filosofis Kristen, ungkap Abdul Latif, hubungan antara manusia dengan Tuhan lewat perantara yaitu Yesus, padahal Yesus manusia juga cuma memiliki kelebihan sebagai utusan Tuhan.
"Filosofis hubungan manusia dengan Tuhan yang sulit dan tidak jelas itu membuat saya mencari sesuatu yang bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Mengapa dalam Kristen saya tidak bisa berdoa langsung pada Tuhan? Mengapa setiap berdoa saya harus mengawali dan mengakhirinya dengan menyebut 'atas nama bapak, dan putera dan roh kudus'? Mengapa Tuhan yang Maha harus mengambil bentuk sebagai seorang laki-laki yaitu Yesus, mengapa Tuhan merasa perlu melakukan hal seperti itu?" ujar Abdul Latif.
"Itu cuma sebagian pertanyaan yang tidak mampu saya pecahkan. Saya menginginkan pendekatan yang jelas bersifat langsung dalam sebuah ajaran agama, yang benar-benar memberikan tuntunan pada kehidupan saya dan bukan cuma dogma yang tidak jelas alasannya," sambungnya.
Ketika masih menjadi mahasiswa, Abdul Latif punya teman sekamar orang Yahudi yang mempelajari Pencak Silat, ilmu bela diri tradisional. Setiap pulang latihan pencak silat dari padepokan yang dipimpin oleh seorang asal Malaysia, ahabatnya itu selalu bercerita tentang keunikan dan kekayaan dimensi spiritual dalam pencak silat. Abdul Latif tertarik dengan cerita sahabatnya itu dan berniat untuk mengetahui pencak silat lebih dalam. Suatu pagi di hari Sabtu, tanggal 28 Februari 1998, ia pun ikut ke tempat latihan pencak silat dan bertemu dengan guru pencak silatnya bernama Sulaiman, seorang Muslim Malaysia. Saat itu, ia tak menyadari bahwa momen itulah yang akan mengantarnya mengenal agama Islam dan menjadi seorang Muslim.
Sejak itu, Abdul Latif banyak menghabiskan waktunya berlatih pencak silat dan belajar Islam dari Sulaiman, gurunya yang sering ia panggil Cikgu (panggilan untuk seorang guru). Ia dan teman sekamarnya yang orang Yahudi itu juga sering berkunjung ke rumah Sulaiman, untuk menggali lebih banyak ilmu pencak silat dan tentu saja tentang agama Islam.
"Orientasi saya terhadap Islam sangat kuat. Ketika saya mempelajarinya, saya seperti sedang menjalankannya. Karena saya belajar di rumah guru saya, hadir di tengah Muslim yang taat membuat saya selalu dikelilingi oleh suara, penglihatan dan praktek-praktek agama Islam. Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Ketika Anda berada dalam lingkungan Islam, Anda tidak bisa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari."
"Tidak seperti ajaran Kristen yang memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari, Islam mengajarkan umatnya untuk mengintegrasikan ibadah pada Tuhan dengan semua perbuatan kita. Bersama guru saya, saya langsung merasakan dan mengalami kehidupan yang islami dan menyaksikan sendiri bagaimana Islam bisa membentuk cara hidup seseorang secara keseluruhan," papar Abdul Latif menceritakan pengalamannya pertama kali mengenal dan belajar Islam.
Sebagai orang yang ketika itu menjalani kehidupan yang liberal, Abdul Latif mengaku juga menemui banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ajaran Islam. Apalagi ketika itu ia antipati dengan segala hal yang bersifat dogmatis, tak peduli asalnya darimana. Seiring dengan perjalanan waktu dan pehamannya tentang Islam makin meningkat, Abdul Latif pelan-pelan melihat bahwa apa yang ia anggap sebagai dogma agama merupakan sebuah gaya hidup yang sebenarnya yang diajarkan Sang Pencipta untuk umatnya. Dan ia menemukannya dalam ajaran Islam.
Abdul Latif akhirnya memutuskan menjadi seorang Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat pada 30 Juli 1998, atau lima bulan setelah ia datang ke tempat latihan pencak silat dan belajar tentang Islam dengan guru pencak silatnya. Tapi sebelum mengambil keputusan itu, Abdul Latif benar-benar mengeksplorasi dirinya sendiri apakah ia serius untuk masuk Islam. Dua hal penting yang ia tegaskan dalam dirinya adalah pertanyaan tentang gaya hidup masyarakat Amerika dimana ia dibesarkan dulu yang mengukur kebahagiaan hanya berdasarkan pada apa yang kita punya dan apa yang mampu kita beli serta pertanyaan seputar agama apa yang ia inginkan berperan dalam kehidupannya.
Ketika belajar dan akhirnya memeluk Islam, Abdul Latif menyadari betapa menyejukannya cara hidup yang diajarkan Islam. Islam mengajarkan bahwa semua yang kita lakukan harus bertujuan untuk beribadah pada Allah. Islam bukan agama yang bisa dirasionalisasikan seperti agama Kristen dan Yudaisme. Islam memberikan jalan dan petunjuk yang jelas bagi penganutnya untuk diikuti berupa al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. (erm/iol) http://www.suaramedia.com

Indonesia kejar Thailand dalam pengumpulan medali ASG



Pesilat putri Indonesia, Melysa Angraini menunjukkan medali perak usai dikalahkan pesilat putri Vietnam, Nguyen Thi Kim yang berhak memperoleh medali emas dalam final kelas C Putri Pencak silat Asean School Games (ASG) IV di Sport Hall St. Agnes, Surabaya, Jatim, Selasa (3/7). (FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat)

 Pada pertandingan hari ini, Indonesia menambah pundi-pundi medali emas dari cabang pencak silat sebanyak lima emas dan renang dengan empat emas."
Surabaya (ANTARA News) - Sehari menjelang berakhirnya pelaksanaan ASEAN Schools Games (ASG) 2012, tuan rumah Indonesia mampu menyodok ke posisi kedua dan mengejar Thailand dalam pengumpulan medali.

Data yang diperoleh ANTARA dari Posko ASG 2012 di Surabaya, Selasa malam, kontingen Indonesia kini mengumpulkan 26 medali emas, 25 perak dan 19 perunggu.

Sementara Thailand masih kokoh di posisi puncak dengan perolehan 28 medali emas, 21 perak dan 30 perunggu. Peringkat ketiga ditempati Vietnam yang membukukan 25 medali emas, 17 perak dan 19 perunggu.

Pada pertandingan hari ini, Indonesia menambah pundi-pundi medali emas dari cabang pencak silat sebanyak lima emas dan renang dengan empat emas. Sedangkan Thailand meraih tambahan dua emas dari renang.

Bahkan di cabang renang, perenang tuan rumah juga membukukan tiga catatan rekor baru ASG dan menjadi juara umum dengan merebut sembilan medali emas, enam perak dan lima perunggu.

Rekor baru ASG dicetak Raina Saumi dari nomor 800 meter gaya bebas putri dengan catatan waktu 9 menit 04,39 detik atau lebih cepat dari rekor lama atas namanya sendiri yang dibuat pada ASG 2009 dengan 9 menit 05,60 detik.

Perenang nasional I Gede Siman Sudartawan juga mempertajam rekornya sendiri di nomor 100 meter gaya dada putra, dari 56,28 detik menjadi 56,70 detik.

Selanjutnya perenang putri Dewi Ressa Kania yang turun di nomor 200 meter gaya bebas putri membukukan catatan waktu 2 menit 05,40 detik.

Pada pertandingan hari terakhir Rabu (4/7), kontingen Merah Putih masih berpeluang menambah perolehan medali emas, di antaranya dari cabang tenis lapangan, bulu tangkis, bola voli dan golf.

Bahkan di cabang tenis lapangan, dua medali emas sudah pasti diraih Indonesia dari nomor tunggal putra dan putri, karena mempertemukan sesama petenis tuan rumah di partai final.
Editor: Tjimande Tari Kolot

COPYRIGHT © 2012